Blog · July 7, 2021

Garuda Indonesia dalam babak kemunduran?

Pengarang: James Guild, RSIS

COVID-19 suah menghantam penghasilan kongsi berbendera Indonesia Garuda bersama mengirim penghasilan roboh, menjadikan penggalasan tangan kongsi dihentikan belum lama sehabis kalah tukar surat utang. CEO Irfan Setiaputra menyatakan seluruhnya pinjaman kongsi merupakan Rp 70 triliun (US $ 4,9 miliar). Hal ini menjadikan rapat via Kementerian Badan Usaha Milik Negara, yg mengajukan sebanyak pernyataan terpendam teperlus injeksi tabungan benua, swastanisasi ataupun cara kemunduran selagi perseroan merestrukturisasi sepihak utangnya.

Irfan tiada merinci penghormatan Rp 70 triliun itu selaku perincian, walakin pengungkapan moneter terbaru Garuda semenjak September 2020 melepaskan setengah pertanda. Pada simpulan 2020, seluruhnya kemestian suah menggembung sebagai US$10,36 miliar dibandingkan khasanah senilai US$9,9 miliar, yg berguna perseroan memulangkan ekuitas minus US$455 juta terhadap pemegang sahamnya. Dengan kemestian melewati khasanah, kemunduran moneter sebagai afeksi jelas. Ini pertama terlaksana jeluk kejadian Garuda, atas bidang usaha suah dibekukan sama pemisahan pengembaraan tercantol epidemi. Menurut perangkaan bedel perseroan, pendompleng mondial turun semenjak 193.380 ala Februari 2020 sebagai saja 8.967 setahun terus.

Hal ini membangkitkan tanya apakah persoalan moneter Garuda patut dilihat selaku referendum daya kapitalisme benua Indonesia, ataupun selaku buntut semenjak lindu eksternal yg mega bersama tidak terselami tentang desakan. Sementara administrasi perseroan Garuda tiada bercacat, spesimen termuda makin persuasif.

Tidak kedapatan kongsi penerbangan dalam tempat yg memegang genap kepeng menjumpai menonjok sayup 100 obat jerih penyusutan mondar mandir pendompleng mondial. Bahkan Singapore Airlines, melenceng homo- kongsi yg dikelola via makin baradab dalam mandala ini, membutuhkan patronasi semenjak pemegang tangan kebanyakan Temasek bersama belum lama patut menyatukan kepeng menerabas perdagangan bersama penyewaan rujuk setengah pesawatnya.

Para pengulas suah menautkan afeksi ala pinjaman Rp 70 triliun selaku kenyataan melenceng piara perseroan bersama prediksi kecondongan selira ikhtiar eigendom benua Indonesia menjumpai menyanggam kepeng selaku tiada bertanggung jawaban. Tapi itu tiada sesudah-sudahnya betul jeluk kejadian ini. Kewajiban Garuda teperlus surat utang sukuk US$500 juta (tunggangan moneter Islam yg serupa via surat utang), pinjaman bank US$922,6 juta bersama ketinggalan pinjaman komersial yg lantas menumpuk yg menjelang US$1,4 miliar warsa terus.

Tetapi kepedihan neracanya pertama melahirkan buatan semenjak modifikasi etika akuntansi dari dentuman pinjaman yg tiada berkesinambungan. Sebagian mega kemestian hangat Garuda berawal semenjak kemestian carter pembiayaan. Berdasarkan warta moneter September 2020, kemestian carter maju semenjak US$52,6 juta ala September 2019 sebagai US$5,1 miliar setahun terus.

Garuda, bagaikan padat kongsi penerbangan, tiada memegang sepihak mega armadanya. Sebaliknya dia mengontrak sepihak mega pesawatnya semenjak paksa ketiga. Sebelum warsa 2020, etika akuntansi yg digunakan perseroan berguna saja meniru penyelesaian carter paling sedikit selaku anggaran operasional ala masa terjadinya. Nilai sebu semenjak akad carter yg tertinggal tiada tersembul dalam timbangan selaku kemestian.

Di belakang pendidikan akuntansi hangat yg diadopsi ala warsa 2020, ukuran sebu semenjak carter yg merewak kini tersembul dalam timbangan. Dan jeluk limitasi bidang usaha galib, via pancaran peti uang yg fit, ini kelihatannya tiada hendak sebagai persoalan. Misalnya, ala warsa 2019 Garuda memanifestasikan makin semenjak US$600 juta peti uang sadik semenjak operasinya.

Tetapi via pancaran peti uang yg pejal, itu merupakan persoalan. Ke pendahuluan, korporasi Garuda bersama penguasa probabilitas hendak nunggangi gaham kemunduran selaku leverage masa mereka merasuk transaksi restrukturisasi via lessor.

Ini merupakan langkah yg simetris yg digunakan Malaysia Aviation Group, perseroan indung Malaysia Airlines, ala introduksi 2021, bersama berjaya paruh mereka. Setelah merisaukan menjumpai menjelaskan kemunduran, perdata Inggris membolehkan titik temu menjumpai merestrukturisasi sayup US$4 miliar yg pertama terutang terhadap lessor kapal terbang. Setelah titik temu itu terlaksana, mal gana benua Khazanah Nasional Berhad, pemegang tangan satu blok, menyuntik US$890 juta menjumpai mencagak timbangan kongsi. Kita kelihatannya hendak menonton entitas yg serupa via Garuda. Tetapi pertama-tama, gaham kemunduran yg teruji patut dibuat menjumpai melahirkan kreditur dolan bal.

Di sinilah ilmu mantik kapitalisme benua Indonesia tertumbuk pandangan. Negara tiada hendak hati suci mengasihkan kongsi penerbangan nasionalnya, baradab via memprivatisasi ataupun melikuidasi asetnya jeluk kemunduran. Ini merupakan jabatan chauvinisme perdagangan dengan aspirasi menjumpai membentengi setengah pembatasan pengaturan serentak untuk pekan transenden.

Sementara tangan Garuda diperdagangkan selaku komunitas, 86 obat jerih perseroan dipegang sama penguasa ataupun Chairul Tanjung, melenceng homo- anak Adam terkaya dalam Indonesia. Ini membentengi kongsi penerbangan semenjak keluarbiasaan pekan yg berubah-ubah atas kendatipun mereka puntung, mereka memiliki tempo menjumpai bertransaksi bersama meninjau sortiran mereka minus berlebihan menyusahkan tekanan listrik pemegang tangan. Hal ini utama atas keperluan pemegang tangan tiada nyalar sejajar via keperluan perdagangan ataupun ketatanegaraan benua.

Bisa dibilang khasanah penting bagaikan kongsi penerbangan lokal seboleh-bolehnya tiada sensitif tentang tekanan listrik pekan dalam mana, semasih era serius, penanam modal berkantong tebal iman boleh merebutnya ataupun pemegang tangan boleh mengepas mendesak perdagangan menjumpai menjamin setengah ukuran. Sebaliknya, benua boleh menegaskan kongsi melintas pengkor datang desakan sembuh, nunggangi gaham kemunduran menjumpai mengekstraksi limitasi yg makin peroi semenjak krediturnya dalam sejauh prosedur.

Bisa setuju jalan usaha BUMN Indonesia, teperlus Garuda, mengelola utangnya tiada becus dipertahankan jeluk jangka lengkung tinggi. Tetapi kepedihan moneter kongsi eigendom benua semasih epidemi mendunia tiada menderma mafhum kita padat berhubungan itu, via homo- ataupun parak jalan usaha.

James Guild merupakan Adjunct Fellow dalam S Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura.