Blog · August 30, 2021

Pelajaran istimewa pada India bab vaksinasi COVID-19

Pengarang: Chandrakant Lahariya, New Delhi

Dengan pemencaran ijmal versi Delta COVID-19, pasti bahwa tulisan tangan kosmos, tambahan pula pada negara-negara dan comotan vaksinasi yg jangkung, baku tersangkut dan setiap oknum pada bintang beredar ini. Tetapi perdua ketua serta komune kebugaran ijmal kelihatannya meneladan sebagai perlahan. Perlombaan menjelang mengelola vaksin dan pengutamaan kepentingan nusantara yg kontinu – selagi makin berlipat-lipat sedang pada negara-negara berpenghasilan perlahan dibiarkan menanti injeksi prima mereka – mendukung pirsa.

Inisiatif COVAX yg dipimpin sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta lainnya menjelang mencadangkan vaksin perincian negara-negara berpenghasilan perlahan serta madya sekali terpulang ala penghasil vaksin pada India. Tembakan prima yg disalurkan menyelusuri COVAX diproduksi pada India, serta kerajaan tertulis ala awalnya mengekspor makin berlipat-lipat takaran ketimbang yg diberikan pada berkualitas praja. Tetapi timbulnya alun kedua yg berangsang pada India membuatnya menggunakan restriksi ‘selagi’ mengenai ekspor vaksin COVID-19 yg berbuntut batas musim ini.

Ukuran ini berawal pada berlipat-lipat kekhilafan ancangan yg becus dihindari. Tujuan India merupakan memvaksinasi sebu penduduk oknum dewasanya yg berjumlah 940 juta ala Desember 2021. Setelah awalnya bergumul dan perembesan yg perlahan serta kesangsian yg membanyak, kerajaan tertulis menggunakan serangkaian kebijaksanaan yg bermaksud menjelang meninggikan rayuan serta meninggikan comotan. Ini terjumlah mengekspos vaksinasi COVID-19 menjelang sekotah oknum yg berumur pada kepada 18 warsa, yg mewujudkan promosi tiga parit lepit berkualitas ambisi pemeroleh kebaikan.

Sementara itu, perencanaan yg koyak-koyak mengundang secuil muluk suplai vaksin tak bersalin. Perubahan berkualitas kebijaksanaan logistik vaksin mengundang penguasa kerajaan paksa bertanggung perlawanan menjelang mengecer 25 bayaran pada jumlah vaksin yg tersaji, menyedikitkan total vaksin yg tersaji persis ala zaman dibutuhkan. Pada 31 Juli, India pernah menyerahkan 470 juta takaran vaksin COVID-19, yg bermanfaat 7,5 bayaran pada jumlah penduduk pernah divaksinasi sebu serta 19 bayaran divaksinasi secuil. Untuk mendatangi targetnya, India usah menyerahkan 10 juta letusan setiap musim, duet parit lepit pada tajuk zaman ini yg 5 juta letusan setiap musim.

Tantangan ijmal kesiapan vaksin selaku makin menyorong mengenali penyebaran versi Delta yg membahayakan. Gelombang peradangan modern menyerang Afrika serta Asia, pada mana berlipat-lipat fungsionaris kebugaran ajek tak divaksinasi.

Pemerintah India pernah menebarkan plan menjelang meninggikan pembuatan serta kesiapan vaksin berkualitas sebanyak candra ke haluan, serta diproyeksikan seputar 1,35 miliar takaran hendak tersaji rumpang Agustus serta Desember 2021. Tantangan operasional serta kembalinya kesangsian vaksin bermanfaat suplai vaksin India mana tahu hendak menyusun. mengungguli rayuan ala candra Oktober. Ini becus meninggikan total bidikan yg tersaji menjelang diekspor ke COVAX serta penyelenggara keinginan ijmal lainnya.

Lisensi serta otorisasi 19 vaksin COVID-19 pada sarwa kosmos belaka berkualitas 19 candra melukiskan pendapatan yg pengembara gaib, walakin ketidakadilan berkualitas pembagian globalnya menerangi kekecewaan sungguh-sungguh berkualitas kegiatan seia sekata ijmal. Banyak kerajaan berpenghasilan jangkung pernah membaca integral vaksin COVID-19 menjelang memvaksinasi tiga batas lima parit lepit penduduk mereka. Upaya WHO serta sahabat universal lainnya belaka mewujudkan secuil kesuksesan berkualitas mengesahkan ekuivalensi vaksin, serta tantangannya belaka hendak semakin berkualitas waktu negara-negara makmur merakit menjelang menyerahkan takaran booster.

Meskipun berlipat-lipat tantangan yg tak terkaji, kurangnya perencanaan serta pengamalan yg persis tempo — ramah pada tajuk ijmal maupun multilateral — pernah memperumit kedudukan. Pada Maret 2021, ramah tamah Dialog Keamanan Segiempat dan persis mengenali perlunya kerja sama rumpang Australia, Amerika Serikat, Jepang, serta India menjelang mengesahkan promosi jalan masuk ke vaksin COVID-19. Tetapi beset tempo yg mereka maksudkan merupakan batas triwulan final warsa 2022. Hanya sehabis versi Delta menginjak menghambur dan lekas, ambisi ini sipi ke triwulan final warsa 2021.

Pada Juni 2021, G7 berniat menjelang mengamalkan 1 miliar takaran ke COVAX. Ini belaka secuil terbatas pada 11 miliar takaran yg dibutuhkan kosmos menjelang mengesahkan ekuivalensi vaksin — start yg ramah namun tak integral, serta pengingat bahwa komune ijmal usah menerus melangkaui alegori.

Pada Oktober 2020, Afrika Selatan serta India memberi ide menjelang pelengahan banda cerdik cendekia selagi menjelang vaksin COVID-19 pada Organisasi Perdagangan Dunia. Hal ini membuat lektur modern bab sertifikat harus serta ikhlas, menadah anjuran sehabis Amerika Serikat setujuan menjelang memanggul ide tersangkut. Sementara langkah-langkah tertulis becus mengekspos jalan arteri perincian kerja sama pada zaman haluan, mereka hendak menyimpan minim kebaikan serta merta. Mekanisme parak sebagai Pool Akses Teknologi COVID-19 WHO tak menadah penggemar.

Meskipun terus visibel dialog bab perlunya kesetiakawanan ijmal menjelang menyerbu hawar, kosmos seluruhnya sedang gencat berkualitas bergaul menjelang mengekang COVID-19. Negara-negara penghasil vaksin langsung mengistimewakan injeksi menjelang warganya sebelum membagikannya sebagai ijmal.

Ada integral petunjuk bahwa kerja sama berlaku serta kemitraan yg bertenaga sekali vital — moga-moga komune ijmal bangat mengontrol.

Dr Chandrakant Lahariya, seorang dokter-epidemiologi, merupakan spesialis kebijaksanaan komunitas serta strata kebugaran, yg berbasis pada New Delhi, India. Dia merupakan kawan pengarang istimewa ‘Till We Win: Perjuangan India Melawan Pandemi COVID-19’ (Rumah Acak Penguin India 2020).